Kamis, 14 Februari 2013

NAGARAKERTAGAMA, ATLANTIS DAN EDEN
Analisa Geologi Teks Naskah Nagarakertagama
Pupuh 15 bait ke 2
Created by Ejang Hadian Ridwan

I. Pendahuluan
Penulis menggambil tema ini, berdasarkan teks Nagarakertagama yang mengungkapkan perkiraan data geologi tentang adanya informasi perubahan geografis dan geologis antara pulau Jawa dan Madura akibat perubahan ketinggian air laut, dan mengapa pula dilihat sepintas dari judul yang diberikan seolah-olah bahwa informasi dari pernyataan teks Nagarakertagama ini mendukung kedua buku tersebut. Bisa ya bisa tidak, bisa juga menggagalkan tulisan tentang Altlantis dan Eden. Yang dimaksud Atlantis dan Eden dalam ini adalah menunjuk kepada buku yang berjudul Atlantis The Lost Continent Finally Found karya Prof Arsyio Santos dan Eden In The East karya Stephen Oppenheimer. Dalam artikel ini juga akhirnya membahas tentang hipotesa sejarah nusantara yang hilang di abad awal masehi, disertai dengan pendapat dari ahli geologi terkemuka di Indonesia yaitu Awang Harun Satyana, Artikel ini disertai cara perhitungan tahun saka dengan metoda candra sengkala, termasuk aturan pembacaanya.
Artikel ini bukan merupakan kajian keseluruhan dari kedua buku tersebut yang dibandingkan dengan informasi dari teks nagarakertagama, tetapi hanya mengambil bagian-bagian tertentu, yang mempunyai kemiripan ide dan bahasan dari sebuah peristiwa geologi. Pengajuan topik ini tentunya didasarkan bahwa tesk naskah Nagarakertagama mampu memberikan dan mengukapkan informasi perkiraan data geologi yang disertai penandaan waktu yang tegas, angka kisaran tahun, walaupun memang harus disertai tafsiran dan penjelasan lebih menyeluruh dari berbagai sumber lainya yaitu mengenai penandaan waktu yang begitu jelas disampaikan dalam teks naskah tersebut.

II Latar Belakang

Tentang naskah Nagarakertagama silakan baca di wikipedia online, tentang Atlantis silakan baca juga bukunya yang sudah beredar yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia atau bisa juga dilihat secara online internet di www.atlan.org dan tentang Eden bukunya sudah tersedia juga, kedua ide buku itu ringkasannya bisa dicari secara online internet karena keberadaannya sedang menjadi pembicaraan yang hangat diberbagai media.
Naskah Nagarakertagama memberikan petunjuk dalam pupuh ke 15 bait 2, sebagai berikut:
“kunaɳ tekaɳ nusa madura tatan ilwiɳ parapuri, ri denyan tungal / mwaɳ yawadarani rakwaikana danu, samudra nanguɳ bhumi kta ça ka kalanya karnö, teweknyan dadyapantara sasiki tatwanya tan adoh.”
Dan pernyataan teks ini sangat sejalan dengan apa yang disampaikan oleh buku Atlantis dan Eden, analisa teks akan dibahas dalam materi selanjutnya diartikel ini.
Sekilas tentang buku Atlantis dan Eden, kedua buku  ini memberikan gambaran jelas tentang mitos Surga di Timur, Surga Atlantis (Atlanti English Lamuria sam dengan Eden, merupakan kata lain dari Atlantis itu sendiri) dan tentang Surga di Timur ini pertama kali disampaikan oleh Plato. Plato dalam bahasa Yunani: Πλάτων, lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, yang salah satu anak didiknya yaitu Socrates, dengan memberikan gambaran atau petunjuk bahwa telah terjadi suatu masa peradaban tinggi di muka bumi ini, yang ditandai dengan adanya ke kaisaran agung yang mendunia.
Masa itu hilang karena adanya perubahan geologi dari muka bumi. Plato menjelaskan ciri-ciri dengan rinci mulai dari keadaan alam, flora dan faunanya serta ciri geografis dominan dari Surga Atlantis tersebut, dengan kuil-kuil atau istananya terbentuk dari emas. Berdasarkan apa yang disampaikan Plato inilah maka dimulai pula penelusuran dan pencarian jejak tentang mitos surga Atlantis tersebut. Para petualang meneyebar ke seantero jagat dengan misi dasar menemukan mitos tentang Surga di Timur tersebut. Salah satu efek tidak langsung adalah munculnya bangsa-bangsa barat yang menjajah di Indonesia dan negara-negara lainya, misalnya penjajahan oleh Portugis, Inggris dan Belanda.
Berbagai kajian dan penelitian tentang mitos Surga di Timur itu sungguh beraneka ragam, tempat yang ditunjukannya pun berbeda-beda. Semua dilakukan dengan berbagai metoda, dan semuanya pula mengaku yang paling ilmiah tentunya berdasarkan bukti-bukti yang ajukan, dan tentunya pula pasti ada bantahan dan sanggahan dari ilmuwan lainnya. Buku yang disebutkan diatas merupakan kajian dan penelitian yang bisa dianggap paling mutahir, saat ini tentang Surga Atlantis.
Kedua buku ini mempunyai metoda yang berbeda dalam pembahasanya, tetapi kedua buku ini pula menunjuk suatu posisi yang hampir serupa. Buku Atlantis yang dikarang Prof Arsyio secara gamblang dan tegas menyatakan bahwa Surga Atlantis itu adanya tepat di Indonesia, lebih spesifik yaitu di laut Jawa yang kearah utaranya berbatasan dengan Laut China Selatan dan tentunya daratan China Selatan sekarang, dengan mengatakan bahwa laut Jawa dulunya merupakan daratan yang maha luas, termasuk katagori sangat langka dijumpai dimuka bumi ini daratan seluas itu, sedangkan pulau-pulau yang mengelilinginya merupakan dataran tinggi pada masa itu (Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malayu, dan yang lainnya, pulau besar Indonesia masa kini). Sedangkan buku Eden in The East menujuk bahwa Surga Atlantis adanya di Asia bagian tenggara dan tidak secara tegas menunjuk Indonesia.

Kedua pengarang buku tersebut mengajukan berbagai data, mulai data geologis, geografis dan  dan sosial budaya serta peninggalan sejarah (artefak). Prof Arsyio lebih fokus di Filologi dan Linguistik dengan memakai sumber-sumber mitos di berbagai belahan dunia dan dari berbagai agama, sedangkan Oppenheimer lebih fokus dengan penelitian arkeologi, bukti artefak, tentunya walaupun masing-masing mengandalkan metode-metoda yang menurut mereka paling akurat tetap saja semua yang menjadikan fokus penelitian, tentu harus komperehensif dengan semua sumber dan metode lain yang mendukungnya.

Dan satu hal lagi, kedua buku sepakat bahwa kejadian itu terjadi ketika jaman terakhir es mencair yang ada dipermukaan bumi, era pleistosin, yang disebabkan oleh sebuah ledakan maha dasyat “a super colossal eruption” dari peristiwa vulkanik Gunung Krakatau, sehingga terjadilah akhir jaman es mencair, dan permukaan air laut menjadi pasang, melenyapkan dataran-dataran rendah. Pertistiwa lenyapnya daratan di laut Jawa sekarang dipancing dengan adanya kubangan maha besar (kaldera raksasa) diselat Sunda, efek kejadian vulkanik Gunung Krarakatu tersebut, akhirnya air masuk dari samudera Hindia dan menenggelamkan Surga Atlantis, diperkirakan oleh mereka yaitu kejadiannya sekitar 11.600 SM.

Bagi penulis, apapun mengenai berbagai bahasan kedua buku itu atau dari berbagai pihak, yang pasti berdasarkan data-data yang mereka sampaikan, bila ditarik kebelakang tentunya dan diasumsikan bahwa permukaan air di laut Jawa (laut antara pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera) menurun drastis hingga kisaran 150-200 meter (silakan baca tentang cara mengukur kedalaman laut), kasarannya dikuras habis sampai kedalaman tersebut, maka akan didapati dataran seluas kira-kira 400 x 600 km persegi bahkan lebih, dan ini memang daratan maha luas, hampir 3 kali luas pulau jawa sekarang.

Tentang kedalaman laut Jawa silakan baca di laporan Bakosurtanal, atau hasil pengamatan citra satelit laut Jawa yang menunjukan sebagian besar laut Jawa kedalamanya pada kisaran tersebut, yaitu 150-200 meter, walaupun memang ada juga palung-palung dalam yang merupakan hasil pertemuan lempeng-lempeng benua dengan kedalaman ribuan meter. Terdapat 4 (empat) sungai purba juga didaratan itu, dipermukaan dasar laut Jawa, yang diambil sebagai sebagai bukti refensi ilmiah tentang salah satu ciri Atlantis yang disampaikan Plato, dan itulah dalam berbagai mitos keagamaan sungai-sungai Surga dan Surganya Atlantis yang dimaksud, keempat sungai itu bersumber dari gunun Dempo Sumatera Selatan.

NAGARAKERTAGAMA, ATLANTIS DAN EDEN

III. Bahan Materi Yang Diajukan.

Materi yang diajukan dalam artikel ini yaitu pokok bahasan tentang terjemahan dan tafsiran tesk naskah Nagarakertagama, yang teks naskah tersebut sudah disebutkan diatas, berikut terjemahan dari dari teks naskah Nagarakertagama pupuh 15 bait 2 tersebut: 
1. Tafsir dan terjemahan Menurut Prof. Dr Slamet Mulyana dari buku “Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya”, sebagai berikut:
“Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara asing, Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu, Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat, Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.”
2. Tafsir dan terjemahan menurut Theodor Pigeaud, dari buku “14Java in the 14th Century. A Study in Cultural History”, 5 vols Pigeaud 1, pp. 11-13, Pigeaud 3, pp. 16-19 “, sebagai berikut:
“Concerning now this island of Madura, this is not at all of the same aspect as the foreign kingdoms, because of the fact that it has been one with the Yawa-country, so it is said, at that time in the past: "The oceans carry a country" (124 = 202 A.D.), such is their Shaka-year, one hears, their moment to become provided with an interstice; (nevertheless) they are one in essence, not far away (from each other).”
Penandaan tahun yang terdapat dalam pupuh 15 bait 2 naskah Nagarakertagama hasil terjemahan dari teks aslinya bahasa Kawi -Jawa Kuno yaitu “samudra nanguɳ bhumi” oleh Prof Slamet Mulyana diterjemahkan menjadi “tahun Saka lautan menantang bumi” dan oleh Theodor Pigeaud” The oceans carry a country" (124 = 202 A.D.), such is their Shaka-year”,terdapat penandaan tahun yang jelas yaitu tahun saka 124 atau sama dengan 202 Masehi.

Tentang Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana atau Prof Dr Slamet Mulyana (lahir di Yogyakarta, 21 Maret 1929 – meninggal di Jakarta, 2 Juni 1986 pada umur 57 tahun), adalah seorang filolog dan sejarawan dari Indonesia, memperoleh gelar B.A. dari Universitas Gadjah Mada tahun 1950, gelar M.A. dari Universitas Indonesia tahun 1952, gelar Doktor Sejarah dan Filologi dari Universitas Louvain, Belgia, tahun 1954, serta menjadi profesor pada Universitas Indonesia sejak tahun 1958.
Tentang Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud atau Theodor Pigeaud (Leipzig, 20 Februari 1899–Gouda, 6 Maret 1988) adalah seorang ahli Sastra Jawa dari Belanda. Ia terutama menjadi termasyhur berkat kamus Jawa-Belandanya (1938) yang dijadikan dasar oleh W.J.S. Poerwadarminta sebagai Baoesastra Djawa. Selain itu Pigeaud juga dikenal karena studi monumentalnya mengenai Nagarakretagama dan katalog-katalog naskah manuskrip di perpustakaan di Belanda, Denmark, dan Jerman.

IV. Tentang Penandaan Waktu atau Sistem Kalender Saka
Kalender saka adalah tata perhitungan waktu reguler berupa kalender yang berasal dari India, yang merupakan sebuah penanggalan candra – surya atau disebut juga kalender luni – solar yang dimulai perhitungannya ketika 78 tahun dari perhitungan tahun masehi. Dasar perhitungan ini ditandai ketika kota Ujjayini (Malwa di India sekarang) direbut oleh kaum Saka (Scythia) dibawah pimpinan Maharaja Kaniska dari tangan kaum Satavahana. Tahun barunya terjadi pada saat Minasamkranti (matahari pada rasi bintang pices) yang menandai awal musim semi, dan nama-nama bulan pada penanggalan atau hitungan tahun saka yang lainya didasarkan pada perubahan musim, nerikut nama-nama bulan dalam tahun saka: Caitra, Waisaka, Jyestha, Asadha, Srawana, Bhadrawada, Aswina (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Phalguna. Agar sesuai dengan peredaran matahari bulan Asadha dan Srawana diulang secara bergiliran setiap  tiga tahun dengan Dwitiya Asadha dan Dwitiya Srawana. Silakan unutk keterangan lebih lanjut di Wikipedia Online tentang Kalender Saka.
Metoda pembacaan tahun saka disebut candra sengkala atau hanya disebut sengkala saja, mempunyai arti kurang lebih adalah kata-kata yang memiliki arti berupa angka, yang digunakan oleh orang Jawa kuno untuk memberikan nama pada sebuah bangunan, upacara, kejadian atau masa atau tahun dan lain sebagainya, dalam hitungan angka tahun saka.
Cara pembacaan selalu terbalik, artinya dibaca terbalik dari urutan penulisan misalnya : “Dewo Ngasto Manggalaning Ratu”  yang ditafsirkan atau diterjemahkan menjadi “Dewa minitis kebumi menjadi raja”, Dewo = 9, Ngasto = 2, Manggalaning = 8, Ratu = 1, susunan penulisan 9281, tapi dibaca menjadi angka tahun saka 1829.
Sifat dari pembacaan tahun saka ini lebih kearah penafsiran, terdapat beberapa pengelompokan kata yang ditafsirkan dan diterjemahkan menjadi simbol dari angka-angka saka, sebagai berikut misalnya:
  1. Angka 1 (satu) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu : Ratu, Raja, Tuhan, bumi, orang, lelaki, perempuan, anak, benih, daun, eka , tunggal,  sendiri, satu,  matahari, rembulan dst (dan seterusnya). Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama seperti bintang dianggap punya sifat yang sama dengan matahari.
  2. Angka 2 (dua) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu : mata, telinga, tangan, kaki, sejodoh, penganten, teman, seiring, dwi, dua, pandangan, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat atau hampir mirip dengan contoh diatas misal sejodoh, dua atau dwi sama dengan sepasang.
  3. Angka 3 (tiga) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu : Api, Pandai, panas, asap, terbakar,berkobar, cerdas, guna, laksana, bagai, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dengan contoh diatas misal cerdas sama dengan pintar.
  4. Angka 4 (empat) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu : air, samudra, laut, sungai, catur, dadi, kiblat, rawa, mata angin, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal danau, ngarai..
  5. Angka 5 (lima) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu: Raksasa, buta, angin, senjata tajam, galak, buas, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal buas sama dengan jahat.
  6. Angka 6 (enam) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu: rasa, cinta, suka, marah, senang, sedih, manis, asmara, kayu, gelondongan, pohon, wayang, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal marah sma dengan murka.
  7. Angka 7 (tujuh) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu: pendeta, guru, ustadz, ulama, sayuti, biksu, ukang ceramah, kendaraan, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal kuda, pesawat, mobil.
  8. Angka 8 (delapan) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu: naga, ular, kadal, buaya, gajah, mandala, komodo, cicak, dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal binatang merayap atau bergerak pelan.
  9. Angka 9 (sembilan) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu: lubang, bau-bauan, harum, wangi, dewa, singa, sumur, bolong  dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal bau amis.
  10. Angka 0 (nol) didapat bagi kata-kata yang mengandung simbol, yaitu: Tanpa, nir, bolong, awang-awang, langit, angkasa, anariksa, luhur, tinggi dst. Atau kata-kata yang mempunyai sifat yang sama atau hampir mirip dari contoh diatas misal udara.
Penulis membahasakan seperti bahasa masa kini, karena memang hitungan saka masih dipakai sampai sekarang, seperti halnya di Bali, bahkan hari Nyepi adalah peringatan tahun baru Saka.
Dalam naskah Pararaton ada namanya Raja Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V, suka diinisiasi menjadi penandaan waktu keruntuhan kerajaan Majapahit dengan penafsiran Candra Sengkala, yaitu menjadi “Sirna Hilang Kertaing Bhumi” yang penulisan tahun sakanya menjadi 0041, dengan pembacaan terbalik menjadi 1400 tahun saka, setara dengan 1478 Masehi. Nama Raja Bhre Kertabhumi berasal dari Naskah Pararaton, dan kalau penafsirannya demikian terhadap nama Raja Bhre Kertabhumi, tentunya keruntuhan kerajaan Majapahit sudah direncanakan oleh si pengarang Pararaton, atau sebaliknya, penandaan waktu kejatuhan kerajaan Majapahit oleh si pengarang Pararaton menjadi simbolisasi dari nama raja kertabhumi sebagai alias dari Raja Brawijaya V. Sungguh tidak masuk logika kerajaan besar yang banyak terdapat para sastrawan atau punjangganya membiarkan raja pendahulunya memberikan nama, atau sebutan atau gelaran Kertabhumi yang mempunyai tafsiran seperti diatas “Sirna Hilang Kertaing Bhumi”.
Contoh lainnya perhitungan tahun saka, diambil dari naskah nagarakertagama, seperti :
1.      Pintu gunung mendengar indu, tahun saka 1279, pupuh 17 bait 6,
2.      Seekor naga menelan bulan, tahun saka 1281, pupuh 17 bait 7,
3.      Lautan dasa bulan, tahun saka 1104, pupuh 40 bait 1,
4.      Lautan dadu Siwa, tahun saka 1144, pupuh 40 bait 3.
IV. Analisa Bahan Materi yang Diajukan
Penandaan waktu tahun saka dalam pupuh 15 bait ke-2 dalam naskah Nagarakertagama dengan memakai metode hitungan candra sengkala didapat sebagai berikut:
1.      Samudra mempunyai indek atau angka 4, sama artinya dengan laut, atau lautan,
2.      nanguɳ mempunyai indek atau angka 2, sama artinya dengan menantang,
3.      bhumi mempunyai indek atau angka 1, sama artinya dengan bumi, daratan.
Maka hitungan candra sengkalanya menjadi 421, yang kemudian prosedur selanjutnya dilakukan pembacaan terbalik, maka hasilnya menjadi 124 tahun saka atau setara dengan 202 Masehi, dan ini sesuai dengan catatan waktu yang disampaikan Theodor Pigeaud dan dan tafsir dari Prof DR Slamet Mulyana “lautan menatang bumi”.
Dalam Tafsir bait secara keseluruhan, pengarang naskah Nagaraketagama menyampaikan berita bahwa Pulau Madura dan Pulau Jawa dulunya terasa dekat, atau mengarah kebersatu, satu pulau bersama, atau satu daratan atau juga masih terpisah oleh lautan tapi dengan permukaan air laut yang tidak begitu dalam, sehingga jarak antara ke 2 pulau tersebut seolah-olah sangat dekat.
A.    Analisa Masa Lampau Abad 1-5 M Nusantara 
Catatan sejarah nusantara, baru dimulai ketika didapat bukti-bukti sejarah yaitu dengan ditemukannya prasasti di Kutai, Kalimantan Timur. prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai. Terdapat tujuh buah yupa yang memuat prasasti, namun baru 4 yang berhasil dibaca dan diterjemahkan. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari dan dalam bahasa Sanskerta, yang diperkirakan dari bentuk dan jenisnya berasal dari sekitar 400 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam bentuk puisi anustub, silakan lebih lengkap baca di wikipedia online mengenai catatan sejarah dalam bentuk prasasti tertua di nusantara.
Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya, dalam prasasti itu dituliskan sebagai berikut:
"ini sabdakalanda rakryan juru pangambat i kawihaji  panyca pasagi marsan desa barpulihkan haji sunda".
Terjemahannya menurut Bosch, sebagai berikut:
   "Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda". Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angka nam vamato gatih" (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.
  Beberapa ratus meter dari tempat prasasti itu, ditemukan pula dua prasasti lainnya peninggalan Maharaja Purnawarman yang berhuruf Palawa dan berbahasa Sangsekerta. Dalam literatur, kedua prasasti itu disebut Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi (daerah bekas perkebunan kopi milik Jonathan Rig). Prasasti Ciaruteun semula terletak pada aliran (sungai) Ciaruteun (100 meter) dari pertemuan sungai tersebut dengan Cisadane. Tahun 1981 prasasti itu diangkat dan diletakkan dalam cungkup. Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi:
"vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam".
   Terjemahannya menurut Vogel: "Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara". Prasasti Ciaruteun bergambar sepasang "pandatala" (jejak kaki). Gambar jejak telapak kaki menunjukkan tanda kekuasaan yang berfungsi mirip "tanda tangan" seperti jaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya.
    Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahul termasuk bagian tanah swasta Ciampea, sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
    Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

"jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah  airavatabhasya vibhatidam padadavayam".
(Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa).
   Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Terdapat ukiran bendera dan sepasang lebah, yang ditatahkan secara jelas pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan diantara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan).
    Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris, penulis belum punya data tentang kapan prasasti itu dibuat, bunyinya sebagai berikut:
"shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam-padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam".
Terjemahannya menurut Vogel sebagai berikut:
  "Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya".
   Terlihat jelas bahwa catan sejarah, dimulai mulai abad ke 6 Masehi, dengan pembuatan prasasti menunjukan tahun 536M, artinya kerjaan Tarumanegara dipredikisi kisaran sebelum abad ke 6 tersebut, sebelum itu tidak ada catatan sejarah sedikitpun mengenai peradaban di tatar Sunda, semisal abad ke 1-5 Masehi. Katakanlah naskah Wangsakerta “pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1” yang mencatat sebelum masa Raja Purnawarman masih terdapat raja-raja sebelumnya yang diawali oleh Jayasingawarman kisaran tahun 358-382 M, dan Dharmayawarman kisaran tahun 382-395 M, artinya lebih lanjut abad ke 1-3 M atau abad sebelum masehi sendiri catatan sejarah kerajaan atau peadaban sunda, bahkan nusantara pada umumnya tidak ada sama sekali. Walau pun naskah Wangsakerta masih menyimpan catatan mengenai masa pada abad 1-3 ini dengan memunculkan kisah Aki Tirem dan kerajaan Salakanagara, tapi dukungan terhadap informasi naskah itu lemah, tidak ada dukungan bukti catatan primer semacam prasasti atau bukti lainnya, dengan demikian untuk sementara masih memakai asumi tidak ada bukti catatan sejarah sebelum abad ke-5 diwilayah tatar sunda khususnya.
     Pertanyaanya, apakah benar tidak ada peraban sama sekali, atau tidak kah ada kelompok bangsa yang yang membentuk sebuah kerajaan atau negara sama sekali pada waktu itu atau katakanlah setingkat kerajaan kecil, yang mempunyai struktur kepemerintahan atau dipimpin oleh sekelompok orang yang berkuasa. Apakah Abad itu, abad sangat primitif sehingga tidak ada catatan sejarah sedikit pun.
     Hal yang patut diingat bahwa Cina sudah mempunyai catatan sejarah 3000 tahun sebelum Masehi, artinya dokumentasi sejarah sudah ada yang merupakan dokumentasi sejarah paling awal dimuka bumi ini. Apakah dengan keberadaan Cina yang sudah membentuk suatu bangsa yang beradab, dengan pendokumentasian sejarah yang sudah terjadi, sama sekali tidak ada hubugan dengan peradaban di Jawa, atau nusantara pada umumnya kisaran pada awal abad masehi? Sungguh pertanyaan yang tidak ada jawaban, soalnya tidak ada catatan sejarah sama sekali, tidak bisa dibuktikan apapun.
     Tapi, setidaknya manusia diberi kelengkapan kecerdasan akal dan pikiran, hal yang sangat mengherankan kalau buku Atlantis dan Eden, terang-terangan menyatakan bahwa di wilayah nusantara sudah terdapat peradaban yang maha tinggi kisaran 11.600 SM, yang disinyalir terdapat kekaisaran agung yang mendunia, lagi melegenda. Asumsikan saja apa yang disampaikan kedua buku itu adalah menuju benar, menunjuk kearah yang ingin dibuktikan tentang keberadaan Atlantis, Surga di timur, tapi pertanyaannya mengapa jejak sejarah itu hanya tercatat ribuan tahun yang silam, bahkan mencapai puluhan ribu tahun yang silam, tetapi mengapa pada kisaran abad awal Masehi tidak ada catatan sejarah, bahkan segaris coretan apapun tidak diketemukan sebagai bukti otentik sejarah pada masa itu? Sekali lagi pertanyaan yang sukar dijawab tentunya, dan sepengetahuan penulis belum pernah ada yang bisa menjawabnya.
    Mudah-mudahan apa yang akan disampaikan penulis kedepan dalam lanjutan bahasan artikel ini menjadi bahan pertimbangan bersama, tentang masa sejarah kelam, dalam arti sesungguhnya, sungguh kelam tidak ada pencerahan sejarah sedikit pun tentang awal-abad masehi di Nusantara, tentunya pencerahan itu harus berasal dari adanya bukti sejarah yang bersifat primer, bukan dari dongeng, mitos atau pun kisah rakyat lainnya. Dalam hal ini penulis mencoba unuk merangkainya, walaupun memang hanya dengan metoda utak atik gathuk.
    Penulis sering membaca artikel yang membahas tentang asal-usul kerajaan Sunda, era sebelum Kerajaan Tarumanegara, termasuk tentang Aki Tirem dan Kerajaan Salakanagara, dan dasar informasi itu dari naskah Wangsakerta, yang menjadi heran penulis, kok nama Tirem tumpang tindih dengan berita naskah negarakertagama dipupuh 14 bait 1 (satu), “tirm” yang diterjemahkan oleh hampir semua ahli yaitu Tirem, dan Tirem atau Tirun atau Kerajaan Tidung, adanya di Kalimantan Timur pada abad ke 14 M, setara dengan kerajaan Majapahit masa kepemerintahan raja Hayam Wuruk.
      Angka 124 tahun saka atau 202 M adalah tahun yang mempunyai prediksi tentang adanya  peristiwa perubahan geografis dan geologi, dan ada beberapa sumber yang mengarahkan penulis untuk mencari informasi mengenai data geologi pada kisaran abad ke 1-5 M, waktu antara yang memberikan peluang yang lebar dari eror penandaan waktu untuk 202 M tersebut.
 

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN Part 4

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN

K.  Intelijen dan Perencanaan
Bangsa Mongol sangat hati-hati dan memata-matai musuh mereka sebelum melakukan invasi apapun. Sebelum invasi Eropa, Batu dan Subutai mengirim mata-mata selama hampir sepuluh tahun ke jantung Eropa, membuat peta jalan Romawi kuno, menetapkan rute perdagangan, dan menentukan tingkat kemampuan masing-masing kerajaan untuk melawan invasi. Mereka terdidik menebak keinginan dari setiap kerajaan untuk membantu pihak lain, dan memprediksi kemampuan mereka untuk melawan sendiri atau bersama-sama.
Juga, ketika menyerang suatu daerah, bangsa Mongol akan melakukan semua yang diperlukan untuk benar-benar menaklukkan kota-kota tersebut. Beberapa taktik yang dilakukan adalah mengalihkan jalur sungai-sungai yang mengarah kota-kota yang akan ditaklukan, menutup pasokan pangan dan menunggu penduduknya untuk menyerah, mengumpulkan warga sipil dari daerah terdekat untuk mengisi lini depan untuk serangan kota sebelum mendaki dinding atau tembok pertahanan, dan melakukan perampokan di daerah sekitarnya lalu membunuh beberapa orang, maka membiarkan beberapa yang selamat melarikan diri ke kota utama untuk melaporkan kerugian mereka kepada rakyat utama untuk melemahkan perlawanan, sekaligus menguras sumber daya dari kota karena dengan masuknya secara tiba-tiba para pengungsi.
L. Psy-War (Perang Psikologis) dan Tehnik Kamuflase (Tipuan)
Bangsa Mongol berhasil menggunakan perang psikologis dalam banyak pertempuran mereka, terutama dalam hal menyebarkan teror dan ketakutan ke kota-kota lainya. Mereka sering memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerah dan membayar upeti, daripada kota mereka tersebut dijarah dan dihancurkan. Mereka tahu bahwa penduduk dengan populasi menetap tidak bebas untuk lari seperti populasi nomaden dan bahwa penghancuran kota-kota bagi mereka adalah menjadi kehilangnya terburuk. Ketika kota-kota tersebut menerima tawaran itu, mereka terhindar dari bahaya, tetapi diperlukan pengorbanan lain yaitu support untuk mendukung tentara Mongol menaklukkan daerah lainnya dengan suplai tenaga kerja, persediaan bahan makanan, dan layanan lainnya yang diminta oleh pasukan Mongol.
Sebaliknya. Jika tawaran itu ditolak, Mongol akan menyerang dan menghancurkan kota-kota tersebut, tetapi memungkinkan warga sipil melarikan diri dan beberapa diantaranya menjadi alat menebar teror dengan melaporkan kerugian mereka. Laporan-laporan tersebut adalah alat penting untuk menghasut rasa takut pada orang lain. Namun, kedua belah pihak seringkali memiliki kepentingan yang sama jika berbeda motivasinya dalam melebih-lebihkan dahsyatnya peristiwa tersebut. Bisa jadi dengan melaporkan itu reputasi pasukan Mongol itu akan meningkat bisa juga laporan teror mereka tersebut untuk meningkatkan semangat tentara melawan pasukan Mongol.
Untuk itu, data spesifik (misalnya jumlah korban) yang diberikan dalam sumber-sumber kontemporer perlu dievaluasi dengan hati-hati, lihat segi motivasi dari pemberitaan itu.
Bangsa Mongol juga menggunakan taktik tipu muslihat dengan sangat baik dalam perang mereka. Misalnya, ketika mendekati tentara lawan yang bergerak akan dibagi ke dalam tiga atau lebih kelompok tentara, masing-masing berusaha untuk mengepung dan mengejutkan lawan mereka. Hal ini menciptakan skenario battlefield, banyak lawannya mengira bahwa pasukan Mongol tampaknya akan bisa muncul entah dari mana saja dan kelihatanya lebih banyak dibanding kenyataan sebenarnya. Mengapit dan atau pura-pura mundur jika musuh tidak dapat diatasi dengan mudah adalah salah satu teknik yang paling sering dipraktekkan. 
Teknik lainnya yang umum digunakan oleh pasukan tentara Mongol benar-benar perang psikologis dan digunakan untuk menarik memancing musuh ke posisi rentan dengan menunjukkan diri dari sebuah bukit atau beberapa lokasi yang telah ditentukan sebelumnya, maka menghilang seger ke dalam hutan atau di belakang bukit sementara tentara Mongol yang lainya akan mengapit dengan strategi muncul tibatiba seolah-olah bisa datang entah dari mana saja baik sisi dari kiri, kanan dan atau dari belakang mereka. Selama awal untuk memulai pertempuran di medan perang, saat berkemah di dekat lokasi musuh-musuh mereka maka di malam hari berpura-pura menunjukan keunggulan jumlah pasukan memerintahkan masing-masing unit pasukan untuk menyalakan sedikitnya lima tempat kebakaran, yang akan terlihat untuk para pengintai musuh atau mata-mata bahwa kekuatan mereka diperkirakan lima kali lebih besar dari jumlah sebenarnya.
Pasukan Mongol juga melakukan trik kamuflase dan teror, dengan cara mengikat cabang-cabang pohon atau daun di belakang kuda mereka dan membiarkan kuda-kuda itu menarik dedaunan dibelakangnya sehingga menyapu tanah; dengan melakukan perjalanan disertati dengan pergerakan yang sistematis dan serempak pasukan Mongol bisa menciptakan badai debu di balik bukit, hal ini dalam rangka menciptakan rasa takut dan juga kamuflase supaya tampak bagi lawan jumlah pasukan mereka jauh lebih besar dari kondisi yang sebenarnya, sehingga memaksa lawannya untuk menyerah. Karena setiap tentara Mongol seperti disebutkan sebelumnya memiliki lebih dari satu kuda, mereka akan membiarkan para tahanan dan warga sipil juga untuk naik kuda mereka untuk sementara waktu sebelum konflik pertempuran berlangsung, dan tujuannya yang pastinya yaitu kamuflase dari keunggulan jumlah pasukan itu tadi.
M.   Rekrutmen Pasukan Lawan Yang Menyerah
Pasukan Mongol mulai menaklukkan wilayah-wilayah yang lain, sembari merekrut para laki-laki untuk dijadikan bagian dari pasukan tentaranya jika mereka hanya menyatakan menyerah, terutama misalnya bangsa Turki dan bangsa lainnya, seperti Armenia, Georgia dan lainnya, siap-siap saja berada dalam bayang-banyang kehancuran total apalagi menantang perang, pasti digebuk habis Karena itu, sebagai mereka memperluas ke daerah lain, jumlah pasukan mereka meningkat karena cara perekrutan tadi dari bangsa-bsangsa yang menyatakan takluk, termasuk di dalam serangkaian penaklukan mereka, cara seperti itu yang dilakukan seperti halnya invasi dan pertempuran di Baghdad, tentara lokalan itu bahu membahu menyerbu Bagdad, alhasil pasukan Mongol termasuk pasukan multi nasional karena terdiri dari campuran berbagai bangsa dan berjuang di bawah kontrol dan kepemimpinan Mongol.
N.  Taktik Pertempuran Darat
Para tumen biasanya akan maju di garis depan, lima baris melebar. Tiga baris pertama akan terdiri dari pasukan pemanah berkuda, dua baris terakhir terdiri dari pasukan akhli tombak. Setelah pasukan musuh berada dalam jarak jangkau senjata panah, pasukan Mongol akan mencoba untuk menghindari serangan frontal berisiko atau sembrono (kontras dengan lawan-lawan mereka dari Eropa dan Timur Tengah). Sebaliknya mereka akan menggunakan serangan pengalih perhatian untuk mengacaukan dilokasi pertempuran utama, sementara pasukan utama mereka berusaha untuk mengepung atau mengelilingi musuh. Sekenarion pertama, para pemanah berkuda akan memberikan sebuah serangan cepat dengan panah api. Suplai panah terus ditambahkan dengan cara dibawa oleh unta-unta yang mengikuti dari jarak dekat untuk memastikan suplai amunisi.

Tehnik Menjepit atau mengapit
Dalam semua situasi medan perang, pasukan akan dibagi ke dalam formasi yang terpisah mulai dari kelompok per 10, 100, 1.000 atau 10.000 prajurit tergantung pada situasi dan kondisi medan tempur serta formasi pasukan lawan. Jika pasukan memecah diri dari kekuatan utama dengan jumlah yang signifikan seperti 10.000 atau lebih prajurit kearah depan atau menyamping maka para komandan yang berada diatas bukit akan memberikan isyarat supaya pasukan berikutnya melapisi dengan jumlah yang sama juga Para pemimpin pasukan Mongol umumnya akan memberikan taktik yang digunakan untuk menyerang musuh. Misalnya dalam penyerbuan sebuah kota dengan memecah pasukan supaya mengepung dari sebelah kiri dan kanan masing masing 500 prajurit, maka perintah itu akan diterjemahkan dengan disampaikan kepada 5 unit dengan masing-masing unit berjumlah 100 tentara dan pasukan yang diperintahkan akan mencoba mengepung dan melakukan penyerangan dari kedua sisi itu.
Pengepungan dan pembukaan
Alasan utama untuk pengepungan ini adalah untuk mengepung kota sehingga lawannya tidak ada yang bisa meloloskan diridari kedua sisi. Jika terlihat situasi memburuk pada salah satu bidang atau sisinya, pemimpin pasukan dari bukit akan mengarahkan tentara lainya untuk mendukung serangan tadi. Jika tampak bahwa akan ada masalah yang menyebabkan kerugian yang cukup lumayan dipihak pasukan sendiri, pasukan Mongol akan mundur untuk menyelamatkan diri dan akan mencoba lagi pada hari-hari berikutnya, atau bisa jadi bulan depan setelah mempelajari taktik pertahanan lawannya dalam pertempuran pertama atau bahkan mengirim pesan lagi supaya pihak lawan menyerah, tentunya setelah menimbulkan beberapa bentuk kerusakan dan sabotase terhadap kota yang mau ditaklukan.
Tidak ada ketetapan kapan dan di mana unit-unit pasukan harus dikerahkan, tapi itu semua tergantung pada situasi selama pertempuran berlangsung.
Kelompok-kelompok pasukan memiliki kewenangan penuh pada apa yang harus mereka lakukan pada saat pertempuran terjadi seperti mendukung pasukan pada sisi-sisi lain atau melakukan kamuflase dengan pura-pura mundur pada kondisi yang tepat dalam kelompok-kelompok kecil 100 sampai 1000 selama pertempuran sudah dimulai sesuai dengan arahan umum dan lawan dapat dieliminasi jumlahnya.
Pura-pura Mundur dan Kabur
Pasukan Mongol biasa mempraktekan siasat pura-pura mundur, yang mungkin merupakan taktik medan perang yang paling sulit untuk dilakukan. Hal ini karena kemenangan pura-pura bila berhadapan dengan pasukan terlatih sering dapat berubah menjadi kemenangan yang nyata jika pasukan lawan mampu menekan secara sempurna. Berpura-pura berantakan dan mengalami kekalahan dalam panasnya pertempuran yang sedang sengit-sengitnya, secara tiba-tiba dalam sekejab pasukan Mongol dapat berubah panik dan berbalik lalu kabur, pada saat poros tengah pasukan lawan bisa ditaik keluar, kemudian dengan segera pasukan Mongol menghabisi pasukan lawannya di saat pasukan lawan lengah karena asik menyerang.
Jika taktik mudur itu diketahui pihak lawanya, maka pasukan Mongol dengan sabar memperpanjang mundur pura-puranya selama beberapa hari atau bahkan bisa dalam hitungan mingguan, hal ini bertujuan untuk meyakinkan pemburuan palsu bahwa mereka benar-benar telah dapat dikalahkan, dan setelah dirasa bahwa lawanya tidak lagi memperketat pertahanan seperti semula. lalu kemudian pasukan yang tadinya mundur dengan cepat akan kembali dan bergabung lagi dengan formasi pasukan utama.
O.  Terakhir! Semangat Juang
Berperang tanpa semangat juang apalah artinya, mati konyol itu pasti! Semangat juang yang dibangun oleh Jenghis Khan, Sang Kaisar Agung, Sang Penakluk, pada dasarnya sama dengan para pemimpin yang lain. Menggunakan semangat spiritual.
Ide dasarnya adalah nuansa religius atau nilai-nilai spiritual dari kepercayaan yang mereka anut. Jenghis Khan berhasil membina karakter pasukannya berdasarkan nilai-nilai itu. Dan sama juga penokohan atas tokoh spiritual itu jatuh pada Jenghis Khan yang dianggap sebagai wakil dari Sang Pencipta.
Nilai-nilai inilah yang terus dikembangkan, dipupuk dan dibina serta dipertahankan, sehingga menimbulkan nilai kepercayaan diri dan kerelaan untuk berkorban. Jenghis Khan termasuk katagori manusia cerdas menggunakan metode ini untuk memupuk dan menempa semngat juang pasukannya. Jadilah pasukan Kekaisaran Agung Mongol, pasukan yang disetiap pertempuran menjadi bintang lapangannya.
Kelebihan lain, Jenghis khan melakukan kesemuanya itu dengan tauladan dari dirinya sendiri. Itulah sebenarnya inti dari berhsilnya apapun yang dia terapkan terhadap para prajurinya lebih jauh terhadap bangsa Mongol secara keseluruhan. Terlihat sekali dari prosentase hasil rampasan perang yang dia ambil yang Cuma 10% untuk kas negara dan sebagian dirinya selebihnya buat pasukan secara adil, kehidupan yang merakyat alias penuh kesederhanaan dan nilai-nilai kekeluargaan yang dia bangun. Lihat. Jika Seorang Kaisar Mongol meninggal, pasukan dimana pun berada pasti ditarik ke induk pasukan utama, sebagian besar kembali ke daratan Mongol untuk menghormati Kaisar mereka.
Memang bangsa yang Super terdapat pemimpin yang Super didalamnya.
Sekian dan Terima Kasih. Semoga ada manfaatnya...aminnn.
Salam damai Negeriku Salam Sejahtera Nusantaraku
Wassalam
Penulis
Referensi : 

  1. Oliver,Roland Anthony/Atmore, Anthony.Medieval Africa, 1250-1800 Cambridge University Press, 2001, pg. 17 ISBN 0-521-79372-6, ISBN 978-0-521-79372-8
  2. Amitai-Preiss, Reuven. Mongols and Mamluks: the Mamluk-Īlkhānid War, 1260-1281, Cambridge University Press, 1995, pg. 222. ISBN 0-521-46226-6, ISBN 978-0-521-46226-6
  3. Amitai-Preiss, Reuven. Mongols and Mamluks: the Mamluk-Īlkhānid War, 1260-1281, Cambridge University Press, 1995, pg. 217. ISBN 0-521-46226-6, ISBN 978-0-521-46226-6
  4. David Sneath-The Headless State: Aristocratic Orders, Kinship Society, and Misrepresentations of Nomadic Inner Asia, p.118
  5. George Lane - Daily life in the Mongol Empire, p.96
  6. Morris, Rossabi (October 1994). "All the Khan's Horses" (PDF). pp. 2. Retrieved 2007-11-21.
  7. George Lane. Genghis Khan and Mongol Rule. Westport, CT: Greenwood, 2004. Print. p.31
  8. George Lane - Ibid, p.99
  9. Genghis Khan and the Making of the Modern World - Jack Weatherford
  10. http://home.arcor.de/mustangace/sca_class_mongols.htm
  11. A History of Warfare - John Keegan
  12. Amitai-Preiss, Reuven. The Mamluk-Ilkhanid War, 1998
  13. Chambers, James, The Devil's Horsemen: The Mongol Invasion of Europe. Book Sales Press, 2003.
  14. R.E. Dupuy and T.N. Dupuy, The Encyclopedia Of Military History: From 3500 B.C. To The Present. (2nd Revised Edition 1986)
  15. Hildinger, Erik, Warriors of the Steppe: A Military History of Central Asia, 500 B.C. to A.D. 1700. Da Capo Press, 2001.
  16. Morgan, David, The Mongols. Wiley-Blackwell, ISBN 0-631-17563-6
  17. Jones Archer ., -- Art of War in the Western World [1]
  18. May, Timothy. "The Mongol Art of War." [1] Westholme Publishing, Yardley. 2007.
  19.  Nicolle, David, -- The Mongol Warlords Brockhampton Press, 1998
  20. Charles Oman, The History of the Art of War in the Middle Ages (1898, rev. ed. 1953)
  21. Saunders, J.J. -- The History of the Mongol Conquests, Routledge & Kegan Paul Ltd, 1971, ISBN 0-8122-1766-7
  22. Sicker, Martin -- The Islamic World in Ascendancy: From the Arab Conquests to the Siege of Vienna, Praeger Publishers, 2000
  23.  Soucek, Svatopluk -- A History of Inner Asia, Cambridge, 2000
  24. Verbruggen, J.F., -- The Art of Warfare in Western Europe during the Middle Ages, Boydell Press, Second English translation 1997, ISBN 0-85115-570-7
  25. Conn Iggulden., -- Genghis, birth of an empire,Bantham Dell.
  26. English Wikipedia Online 
  27. http://menguaktabirsejarah.blogspot.com

SENI PERANG ALA JENGHIS KHANPart 3

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN
E. Logistik
Tentara Mongol dalam melakukan perjalanan semisal long march terlihat sangat ringan, dan mampu bertahan hidup karena bisa memenuhinya dari alam sekitarnya. Peralatan mereka untuk memenuhi kebutuhan itu termasuk kait ikan dan alat berburu lainnya yang dimaksudkan agar membuat setiap prajurit terlepas dari sumber pasokan tetap. Bahan makanan dalam perjalanan yang paling umum dari pasukan Mongol yaitu daging yang dikeringkan disebut "Borts", yang masih umum dalam masakan bangsa Mongolia sampai saat ini. Borts ringan dan mudah dibawa untuk perjalanan dan dapat dimasak dengan air, sama dengan sup "makanan instan, cepat saji" jaman modern sekarang.
Pasukan Mongol selalu akan memastikan dia memiliki dan membawa kuda yang kondisinya segar bugar, para prajurit yang masing-masing biasanya memiliki kuda 2 sampai 4 jumlahnya Dan karena sebagian besar kuda perang bangsa Mongol adalah kuda tunggangan, mereka bisa hidup dari kuda mereka itu 'susu atau produk lainnya bila diperlukan. Dalam kondisi sulit, prajurit Mongol bisa minum sedikit dari darah kuda tersebut dengan menyobek nadinya. Mereka bisa bertahan hidup sebulan hanya dengan minum susu kuda yang dikombinasikan dengan darah kuda juga.
Peralatan berat dibawa gerobak dengan pasokan yang terorganisir dengan baik. Gerobak diperuntukan antara lain untuk stok pasokan besar panah. Hal paling utama untuk pasokan logistik yang terbatas, didepan perjalanan mereka harus memastikan menemukan cukup buat pasokan makanan dan air untuk mereka sendiri dan hewan yang dibawa. Dalam semua ekspedisi militer yang memakan waktu lama, para prajurit membawa serta keluarga mereka.
F. Komunikasi
Bangsa Mongol membangun sistem stasiun atau pos relai kuda, mirip dengan sistem yang digunakan di Persia kuno untuk transfer secara cepat pesan-pesan tertulis. Sistem surat Mongol adalah seperti sistem pertama kerajaan besar Kekaisaran Romawi. Selain itu, komunikasi medan perang Mongol memanfaatkan bendera dan tanduk isnyarat serta pada tingkat lebih rendah, dilakukan oleh isyarat panah untuk mengkomunikasikan perintah pergerakan pasukan selama pertempuran.
G. Kostum atau Seragam
Kostum atau seragam dasar orang Mongol untuk pertempuran terdiri dari mantel berat yang diikat di pinggang dengan sabuk kulit. Pada sabuk tersebut akan menggantung pedang, belati, dan mungkin kapak. Ini mantel jubah yang dilipat bidang badan kiri 2 kali lipatan dan diamankan oleh sejenis tombol atau kancing beberapa inci di bawah ketiak kanan. Mantel tersebut dilapisi dengan bulu. Di bawah mantel, pakaian dalam seperti sebuah kemeja lengan panjang dengan baju longgaryang umum dipakai.terbuat dari sutra dan benang logam, yang semakin banyak digunakan. Bangsa Mongol mengenakan kaus pelindung adalah sutra berat. Bahkan jika panah menembus lapisan pelindung luar mereka atau garmen kulit luar, panah itu tidak mungkin untuk benar-benar menembus sutra, sehingga mencegah anak panah dari bahaya yang menyebabkan kematian.
Sepatu bot yang terbuat dari kulit dan meskipun berat akan terasa nyaman dan cukup lebar untuk mengakomodasi celana terselip sebelum dikat erat dengan tali. Mereka mengunakan sejenis sepatu meskipun heelless, tidak tinggi, disol tebal dan dilapisi dengan bulu. Dikenakan juga dengan kaus kaki, sehingga membuat kaki tidak mungkin untuk mendapatkan rasa dingin.
Baju besi pipih yang dikenakan di atas mantel tebal. Baja ini terdiri dari besi dengan skala kecil, serat berantai, atau kulit keras yang dijahit bersama dengan penjepit kulit dan bisa ditimbang kurang lebih 10 kilogram (22 pon) jika terbuat dari kulit saja dan lebih berat lagi jika lapisan baja itu terbuat dari sisik logam. Kulit lapis pertama ini dilunakan dengan cara direbus dan kemudian dilapisi dengan pernis mentah, yang menjadikannya tahan air. Terkadang mantel berat prajurit itu hanya diperkuat dengan pelat logam saja. Mantel ini tentunya tidak terus dipakai, tetapi selama situasi akan melakukan pertempuran saja.
Helm yang berbentuk kerucut dan terdiri dari pelat besi atau baja dengan ukuran yang berbeda dan termasuk besi berlapis penjaga leher. Penutup muka pasukan Mongol adalah berbentuk kerucut dan terbuat dari bahan berlapis, reversibel pada musim dingin, dan penutup telinga. Apakah helm tentara adalah kulit atau logam tergantung pada pangkat dan kekayaan? Yang pasti semua sama, nilai sebuah nyawa tidak tergantung pangkat dan kekayaan tentunya.

H.  Senjata Perang
Busur panah
Senjata utama pasukan Mongol adalah busur Mongol. Itu adalah busur recurve terbuat dari bahan komposit (otot kayu dan tanduk), dan pada saat yang tak tertandingi untuk mencapai akurasi, kekuatan, dan pencapaian. Geometri busur memungkinkan untuk dibuat relatif kecil sehingga dapat digunakan dan menembak ke segala arah dari kuda. Quivers berisi enam puluh anak panah yang diikat di punggung pasukan kavaleri. Paukan pemanah Mongol adalah pasukan pemanah yang sangat terampil dengan busur dan dikatakan bahwa mereka mampu membidik burungtepat pada sayapnya.
Kunci kekuatan busur Mongolia adalah konstruksi laminasi, dengan lapisan tanduk rebus dan untuk menambah otot kayu. Lapisan tanduk berada di bagian muka karena tahan kompresi, sedangkan bagian lapisan muka otot berada di luar karena menolak ekspansi. Semua ini memberi kekuatan busur besar yang membuat sangat efektif sekalipun terhadap baju besi. Busur Mongol bisa menembakan panah keatas sejauh 5 kilometer (0,31 mil). Target tembakan itu mungkin pada kisaran 200 atau 230 meter (660 atau 750 kaki), menentukan jarak dekat taktis yang optimal unit pasukan kavaleri ringan. Tembakan balistik bisa memukul unit pasukan musuh (tanpa menargetkan sasaran secara individu tentara) pada jarak hingga 400 meter (1.300 kaki), berguna untuk mengejutkan dan menakut-nakuti tentara dan kuda  lawan sebelum memulai serangan yang sebenarnya.
Pemanah pasukan Mongol menggunakan berbagai macam panah, tergantung pada target dan jarak. Chainmail dan beberapa baju besi logam bisa ditembus dari jarak dekat dengan menggunakan panah berat khusus.
Pedang
Mongol adalah pedang pedang sedikit melengkung yang digunakan untuk memotong serangan tetapi juga mampu memotong dan menusuk, karena bentuk dan konstruksi, sehingga lebih mudah untuk digunakan dari kuda. Pedang dapat digunakan dengan pegangan satu tangan atau dua tangan dan memiliki pisau yang biasa panjangnya sekitar 2 kaki (0,61 m), dengan panjang keseluruhan pedang sekitar 3 kaki (0,91 m) dan mungkin tidak pernah lebih 1 meter (3 kaki 3 inchi).
I.   Taktik Perang “Pengepungan”
Catapults dan mesin pengepungan lainnya
Teknologi adalah salah satu aspek penting dari Mongolia peperangan. Misalnya, mesin pengepungan adalah bagian penting dari perang Jenghis Khan, terutama dalam menyerang kota-kota berkubu atau mempunyai benteng pertahanan. Mesin pengepungan tidak dibongkar dan dibawa oleh kuda dibangun kembali di lokasi pertempuran seperti tentara Eropa. Sebaliknya rombongan pasukan Mongol akan melakukan perjalanan dengan insinyur-insinyur terampil yang akan membangun mesin pengepungan dari bahan di tempat pertempuran.
Para insinyur membangun mesin direkrut diantara para tawanan, sebagian besar dari Cina dan Persia. Ketika pasukan Mongol membantai seluruh populasi, mereka sering terhindar yaitu insinyur dan teknisi, secara cepat diasimilasi mereka ke dalam tubuh pasukan tentara Mongol.
Kharash
Sebuah taktik yang umum digunakan adalah penggunaan apa yang disebut "kharash". Selama pengepungan Mongol akan berkumpul dengan kerumunan penduduk setempat atau tentara yang menyerah dari pertempuran sebelumnya, dan akan menyuruh mereka maju dalam pengepungan dan pertempuran. Ini sejenis "papan hidup" atau "perisai manusia" sering menjadi korban ujung panah lawan, sehingg para prajurit Mongol dibagian posisi lebih aman. Kharash itu juga sering dipaksa didepan untuk mendobrak dinding pertahanan.
J. Strategi Menjaga Sang Panglima Perang
Taktik pasukan Mongol di medan perang adalah kombinasi hasil ahli pelatihan dengan komunikasi yang baik dan disiplin dalam menghadapai kekacauan pertempuran. Mereka dilatih untuk hampir setiap kemungkinan terjadi, jadi ketika itu terjadi, mereka bisa bereaksi dengan menyesuaikan diri. Tidak seperti kebanyakan lawan mereka, Pasukan tentara Mongol juga dilindungi perwira mereka dengan baik. Pelatihan dan disiplin memungkinkan mereka untuk melawan tanpa memerlukan pengawasan atau intruksi terus menerus dan berantai, yang sering menempatkan posisi komandannya dalam situasi berbahaya.
Bila mungkin, komandan pasukan Mongol harus menemukan dan menempati tanah tertinggi yang tersedia, di mana mereka bisa membuat keputusan dan kesimpulan taktis didasarkan pada pandangan terbaik dari peristiwa yang terjadi di medan perang. Selanjutnya, keberadaannya di tempat yang tinggi memungkinkan pasukan mereka untuk mengamati lebih mudah perintah yang disampaikan oleh isyarat bendera daripada perintah itu disampaikan dilevel ketinggian yang sama. Selain itu, komandan tinggi di tempatkan ditanah tertinggi membuat mereka lebih mudah untuk menjaga dan mempertahankannya.
Tidak seperti tentara Eropa, yang sangat besar menekankan pada keberanian pribadi, dan dengan demikian ketika pemimpin mereka mati oleh orang-orang yang cukup berani untuk membunuh mereka, bangsa Mongol menganggap pemimpin mereka sebagai aset vital. Sebuah hal yang umum seperti halnya Subutai, tidak bisa naik kuda di bagian akhir dari karirnya karena usia dan obesitas, pasti akan diejek keluar dari hampir semua tentara Eropa waktu itu. Tapi di Mongol dia masih diakui dan dihormati atas kekuatan insting dan strategi militernya, yang telah menjadi salah satu bawahan yang Jenghis khan yang paling mumpuni dan disegani, jadi dia nyantai aja walau diangkut di dalam gerobak.